Menilai Potensi Wisata Titik Nol Trawas melalui Pendekatan 3A Pariwisata

TOURISM & DESTINATION

Grace Sissela Marpaung - Dosen Pariwisata UPN “Veteran” Jawa Timur

5/23/20262 min read

Titik Nol Trawas yang berada di Desa Duyung, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto. Kawasan ini berkembang sebagai ruang rekreasi dengan panorama pegunungan, hamparan persawahan, dan suasana pedesaan yang masih alami. Popularitasnya meningkat melaluimedia sosial, terutama karena menawarkan pengalaman menikmati senja, udara pegunungan, dan aktivitas santai di kaki Gunung Penanggungan.

Dalam kajian pariwisata, komponen pengembangan pariwisata dapat dianalisis melalui pendekatan 3A, yaitu Attraction (Atraksi), Accessibility (Aksesibilitas), dan Amenities (Amenitas). Pendekatan ini penting untuk melihat sejauh mana suatu destinasi mampu berkembang secara berkelanjutan.

Daya tarik utama Titik Nol Trawas terletak pada kualitas lanskap alamnya. Kawasan ini menawarkan panorama Gunung Penanggungan, Gunung Arjuno-Welirang, area persawahan terasering. Selain lanskap alam, kawasan ini juga berkembang sebagai ruang wisata rekreatifdan sosial. Aktivitas menikmati kopi, berburu fotografi, menikmati sunset, hingga menjadi titik awal aktivitas outdoor seperti bersepeda dan trekking.

Aksesibilitas Titik Nol Trawas cukup mudah dijangkau dari Surabaya, Mojokerto, maupun wilayah sekitar Jawa Timur. Jalur menuju kawasan wisata dapat diakses kendaraan roda dua dan roda empat, meskipun terdapat tanjakan dan jalan berkelok. Meski demikian, persoalan aksesibilitas masih menjadi salah satu tantangan utama. Infrastruktur jalan menuju area wisata disebut masih terbatas, terutama untuk kendaraan roda empat yang belum dapat mencapai titik wisata secara optimal karena jalan desa yang cendrung kecil. Kondisi ini sebenarnya memiliki dua sisi. Di satu sisi menjadi hambatan kenyamanan wisatawan, tetapidi sisi lain dapat menjaga karakter alami kawasan agar tidak terlalu padat kendaraan.

Amenitas di Titik Nol Trawas masih tergolong sederhana namun mulai berkembang. Kawasan ini telah memiliki area kuliner, tempat duduk, area parkir, dan ruang santai yang mendukung aktivitas wisatawan. Hanya saja penataan ruang pada area kuliner masih kurang tertata dengan rapi. Beberapa tempat makan-minum menjual makan dan minuman yang serupa, tidak ada yang khas atau berbeda, selain itu toilet dengan jumlah yang terbatas, dan area parkir yang belum tertata dengan baik.

Pengembangan wisata di Titik Nol Trawas perlu diarahkan pada konsep pariwisata berkelanjutan yang mampu menjaga keseimbangan antara kepentingan ekonomi, kelestarian lingkungan, dan kesejahteraan masyarakat lokal. Pengelolaan kawasan sebaiknya tetap mempertahankan karakter alami Desa Duyung agar tidak kehilangan identitas wisatanya. Peningkatan fasilitas dan infrastruktur memang diperlukan untuk mendukung kenyamanan pengunjung, namun pembangunan harus dilakukan secara proporsional dan ramah lingkungan agar tidak merusak area persawahan, vegetasi, maupun kualitas visual pegunungan yang menjadi daya tarik utama kawasan.

Pengelola wisata perlu memperkuat aspek amenitas dasar seperti toilet umum, sistem pengelolaan sampah, area parkir, papan informasi wisata, dan jalur pedestrian yang aman bagi pengunjung. Pengelolaan sampah menjadi perhatian penting mengingat meningkatnya aktivitas wisata berpotensi menimbulkan persoalan lingkungan apabila tidak diantisipasi sejak awal. Penerapan konsep wisata ramah lingkungan, seperti pengurangan penggunaan plastik sekali pakai dan penyediaan titik sampah terpilah, dapat menjadi langkah awal dalam menjaga keberlanjutan kawasan wisata.

Titik Nol Trawas juga memiliki peluang besar untuk diarahkan pada wisata edukasi berbasis alam dan budaya lokal. Wisatawan tidak hanya menikmati panorama pegunungan, tetapi juga dapat dikenalkan pada aktivitas pertanian, budaya pedesaan, serta interpretasi lingkungan kawasan pegunungan. Keterlibatan masyarakat Desa Duyung perlu ditingkatkan melalui pengembangan UMKM lokal, kuliner tradisional, jasa wisata, homestay, dan ekonomi kreatif.

Pengembangan wisata Titik Nol Trawas perlu dilakukan secara hati-hati agar tidak terjebakpada pola wisata massal yang terlalu komersial. Daya tarik utama kawasan ini justru terletak pada ketenangan, lanskap alam, dan pengalaman autentik pedesaan yang semakin jarangditemukan di kawasan wisata perkotaan. Sehingga kualitas lingkungan dan pengalaman wisatawan harus menjadi prioritas utama dalam pengelolaan wisata di masa mendatang.