Rujak Phoria : Strategi Kota Surabaya Merawat Tradisi dan Keberlanjutan Destinasi Pariwisata

Event dalam Pengelolaan Destinasi Pariwisata

TOURISM & DESTINATION

Farta Ade Saputra - Dosen Pariwisata UPN “Veteran” Jawa Timur

5/10/20262 min read

Surabaya, 10 Mei 2026 – Kemeriahan di Surabaya Expo Center semalam menjadi pembuktian nyata bahwa sebuah event bukan sekadar hiburan musiman yang datang dan pergi. Dalam manajemen destinasi pariwisata, event adalah instrumen strategis yang berfungsi sebagai katalisator bagi ekosistem pariwisata secara keseluruhan. Festival Rujak Uleg 2026 sukses mengukuhkan posisinya sebagai salah satu dari 125 event nasional unggulan yang lolos kurasi ketat Kementerian Pariwisata RI dalam program Karisma Event Nusantara (KEN) 2026. Masuknya festival ini ke daftar elit nasional mengirimkan pesan kuat: bahwa pengelolaan event yang serius dan konsisten adalah kunci transformasi kuliner lokal menjadi aset pariwisata berkelas dunia.

Melalui tajuk "Rujak Phoria", Surabaya secara taktis menarik antusiasme global Piala Dunia ke dalam ruang kreatif lokal. Di hadapan ribuan pengunjung, terlihat jelas bagaimana tren global digunakan sebagai "pembungkus" untuk memperkenalkan kekayaan autentik kota. Strategi ini bukan sekadar mengikuti tren, melainkan upaya memperkuat branding agar destinasi wisata Kota Surabaya tetap kompetitif, modern, dan inklusif tanpa harus kehilangan akar budayanya. Inilah cara Surabaya memastikan bahwa identitas lokal tetap relevan di tengah arus informasi digital yang begitu cepat.

Dalam perspektif gastronomi, festival ini menegaskan bahwa pelestarian kuliner justru semakin kuat ketika inovasi bersanding dengan elemen budaya yang kokoh. Dinas Pariwisata Kota Surabaya sebagai penyelenggara menerapkan pembagian peran yang sangat sistematis untuk menjamin keberlanjutan produk pariwisatanya. Peserta kehormatan dari sektor perhotelan dan restoran diberikan ruang untuk mengeksplorasi estetika penyajian guna mengangkat sajian Rujak Uleg ke standar profesional internasional. Di sisi lain, para peserta dari universitas, sekolah, hingga UMKM lokal sebagai peserta pada kategori umum menjadi "penjaga gawang" tradisi dengan menyajikan racikan Rujak Uleg orisinal. Sinergi ini memastikan bahwa inovasi tetap berjalan tanpa mengabaikan rasa asli yang menjadi identitas utama rujak uleg sebagai daya tarik budaya di destinasi wisata Kota Surabaya.

Lebih dari sekadar seremonial, Festival Rujak Uleg 2026 berperan sebagai katalisator keberlanjutan destinasi pariwisata melalui dampak ekonomi berantai (multiplier effect). Dari sisi ekonomi, event ini menghidupkan seluruh rantai pasok, setidaknya mulai dari pengrajin cobek, desainer dan penyewaan kostum, hingga produsen petis. Secara sosiokultural, keterlibatan aktif generasi muda menjadi investasi jangka panjang untuk regenerasi pengetahuan kuliner. Pengelolaan yang profesional di Surabaya Expo Center juga membuktikan bahwa event yang terjadwal dengan baik mampu mengatasi masalah fluktuasi kunjungan musiman, memastikan roda pariwisata terus berputar bagi masa depan destinasi wisata Kota Surabaya.

Festival Rujak Uleg 2026 menjadi pengingat penting bagi pengelola destinasi pariwisata di wilayah lain bahwa keberhasilan pariwisata tidak lahir dari kegiatan yang sporadis, melainkan dari konsistensi dan visi manajemen yang jelas. Surabaya telah menunjukkan cara menarik momentum dunia sebagai energi untuk memperkuat kearifan lokal. Tradisi terbukti bisa menjadi kekuatan pendorong ekonomi yang dahsyat jika dikelola dengan serius sebagai bagian dari keberlanjutan destinasi pariwisata. Sampai jumpa di ulekan tahun depan, di mana tradisi dan inovasi harus terus berdampingan demi masa depan pariwisata Surabaya yang lebih cerah.

Keseruan peserta Festival Rujak Uleg KEN 2026

Peserta Festival Rujak Uleg KEN 2026 dengan kostum salah satu negara pada Piala Dunia 2026

black blue and yellow textile

Share your inspiring journey